Simfoni Sepakbola

Simfoni Sepakbola

Sepakbola tidak hanya sekedar menang dan kalah. Ada proses, ada filosofi yang mendasari suatu perbuatan, ada tangis dan tawa, ada permainan politik dan masih banyak lagi. Hal-hal semacam ini sebenarnya sangat menarik untuk dikupas, apalagi berbicara soal pendekatan taktik dan strategi dari liga yang berbeda.

Berbicara mengenai La Liga, semua mata pasti tertuju pada rivalitas Barcelona dan Real Madrid. Athletic Bilbao, Sevilla, maupun Las Palmas memang bukanlah langganan juara La Liga. Jumlah trofi mereka pun kalah jauh jika dibandingkan dengan perolehan trofi duo El Classico ini. Ada hal yang menarik ketika kita membahas Athletic Bilbao. Klub yang terkenal dengan chauvinisme-nya sampai sekarang tetap konsisten menggunakan jasa pemain lokal. Bagi mereka, merekrut pemain yang bukan berdarah Basque adalah sebuah dosa besar yang akan dicatat oleh malaikat. Sangat idealis! Fernando Llorente, Javi Martinez, Iker Muniain dan terakhir Ander Herrera adalah nama-nama besar yang diorbitkan oleh akademi mereka sendiri. Jangan lupakan Telmo Zarra, legenda mereka sekaligus top skor sepanjang masa Athletic Bilbao.

Di Italia, sepakbola lebih mirip agama ketimbang sebuah olahraga. Tidak heran, di sisi utara maupun selatan stadion selalu dipenuhi oleh kelompok suporter fanatik nan militan yang menamakan diri mereka ultras. Ultras di Italia terkenal keras. Gianluca Vialli di dalam bukunya yang bertajuk The Italian Job: A Journey to the Heart of Two Great Footballing Cultures menjabarkan bahwa kekerasan sudah menjadi ritual tersendiri yang terus dipelihara kesuciannya oleh kelompok suporter di Italia. Tak hanya kekerasan yang dihadirkan melalui kontak fisik, tetapi juga kekerasan simbolik. Di setiap pertandingan, mereka sering menampilkan pertunjukan-pertunjukan spektakuler meliputi kostum yang terkoordinir, kibaran aneka bendera, spanduk & panji raksasa untuk mempertegas identitas mereka.

Sikap memandang sepakbola sebagai sesuatu yang religius (menang dengan cara apapun) membuat Italia sukses melahirkan banyak  pelatih jenius dengan inovasi taktikal yang mendunia. Jangan tanyakan prestasi yang sudah diraih oleh Arrigo Sacchi, Carlo Ancelotti, Antonio Conte, dan Claudio Raneiri di kancah domestik maupun Eropa.

Pep tidak hanya ingin menang, dia ingin menang dengan caranya dia, sesuai dengan mazhab yang dianutnya.

Kompleksitas taktik disertai permainan cantik nan menawan kerap diasosiasikan dengan Pep Guardiola. Bagi segelintir pundit, Pep itu setengah pelatih bola, setengah filsuf. Belum ada pelatih yang sengotot dia mempertahankan filosofi bermainnya dimana semuanya serba pragmatis. Pep tidak hanya ingin menang, dia ingin menang dengan caranya dia, sesuai dengan mazhab yang dianutnya. 21 trofi dalam 7 tahun adalah bukti konkrit betapa digdayanya Guardiola dengan juego de posicion-nya dalam kurun waktu tersebut.

Mourinho
Photo Credit: Omar Momani

Tapi perlu diingat Tony Pulis, Diego Simeone, sampai hipokrit macam Jose Mourinho adalah sosok yang dibutuhkan dalam sepak bola. Sebenci apapun kita terhadap sosok-sosok seperti ini, hidup akan terasa membosankan jika orang-orang seperti Johan Cryuff, Guardiola, sampai Arrigo Sacchi dibiarkan sendirian memainkan dan memenangkan trofi demi trofi. Sepak bola, sekali lagi perlu ditekankan adalah ladang opini. Tidak ada hukum mutlak di sini. Tidak ada salah dan benar. Mau bermain pragmatis untuk juara, silakan. Mau menjadi moralis dan bermain cantik juga silakan, kalau mampu.

Ada nilai estetika dan historis yang dimiliki dari setiap helai jersey klub yang dirilis berbeda tiap tahunnya. Mungkin tidak banyak yang tau betapa teganya pemilik klub Cardiff City asal Malaysia, Vincent Tan yang seenaknya mengubah warna logo dan jersey tradisional yang semulanya berwarna biru menjadi warna merah. Alasannya sangat primitif. Menurut kepercayaannya, warna merah diidentikkan dengan keberuntungan. Hal ini diharapkan bisa menularkan kesuksesan bagi klub asal Wales tersebut. Meski mengalami penolakan, entah kebetulan atau tidak, diawal masa kepemimpinannya Cardiff City berhasil naik ke kasta yang lebih bergengsi walaupun hanya bisa bertahan selama semusim sebelum kembali ke habitatnya semula.

Politik dan sepakbola bukanlah kombinasi yang baru. Kombinasi ini bahkan sudah berjalan beriringan sejak olahraga ini diformalkan. Berita terhangat belakangan ini adalah kisruh yang melibatkan Pemerintah Spanyol dan masyarakat Catalonia. Masyarakat Catalonia beralasan mereka berhak merdeka dari Spanyol karena apa yang mereka berikan kepada pemerintah pusat tidak sepadan dengan apa yang mereka dapatkan. Produk Domestik Bruto Catalonia mencakup 19 persen dari PDB Spanyol.

Lantas apa korelasi Barcelona dengan Catalonia serta Spanyol dengan Real Madrid? Pemicu utamanya tidak lain karna ulah diktator fasis bernama Jendral Franco. Di bawah kepemimpinannya, sepakbola dijadikan alat untuk memuluskan kebijakan politik pada saat Spanyol mengalami krisis ekonomi. Melalui propaganda yang dia lakukan, Real Madrid berhasil merengkuh gelar prestisius Liga Champion 5 kali secara beruntun. Barcelona yang didominasi masyarakat Catalan tidak terima mereka dianak tirikan oleh pemerintah Spanyol. Mengutip pernyataan dari seorang fans Barcelona, “Meskipun bangsa Catalonia belum punya negara, tapi mereka punya tentara, FC Barcelona”.

Di sub kategori Football Symphony ini, saya mencoba untuk mengurai sepakbola dari perspektif yang lain. Tidak seperti portal bola mainstream yang hanya menjual berita mengenai rumor kepindahan pemain dan hasil pertandingan bola tiap pekannya. Postingan perdana ini merupakan  rangkuman dari beberapa aspek sepakbola seperti taktik, ekonomi, politik, dan budaya dari beberapa klub di Eropa. Dan ini menjadi cerminan artikel sepakbola yang akan terbit berikutnya. Semoga bermanfaat.

<