Under the Eye of the Big Bird: Apa yang Tersisa dari Kemanusiaan?

30 Mar 2025

Under the Eye of the Big Bird: Apa yang Tersisa dari Kemanusiaan?

Bayangkan sebuah dunia di mana anak-anak tidak lagi lahir dari rahim ibu, melainkan diproduksi di pabrik dengan DNA kelinci atau lumba-lumba. Di mana manusia berevolusi menjadi seperti tumbuhan, dengan kemampuan fotosintesis yang memungkinkan mereka bertahan hidup tanpa makanan. Dan di mana entitas misterius "Mothers" mengawasi kehancuran yang tak terelakkan. Inilah dunia yang digambarkan oleh Hiromi Kawakami dalam novel spekulatifnya, Under the Eye of the Big Bird. Kawakami mengajak kita untuk bertanya: Apa artinya menjadi manusia ketika biologi, teknologi, dan moral saling bertabrakan?

1. Identitas di Ambang Kepunahan: "Manusia" yang Kabur

Kita mulai dengan pertanyaan klasik: Apa yang mendefinisikan manusia? Di dunia Kawakami, identitas manusia menjadi kabur. Saat mati, yang tersisa hanyalah "tulang analog" berbentuk tengkorak hewan, mengingatkan kita bahwa asal-usul kita tidak lagi jelas. Ketika tubuh manusia bisa berfotosintesis atau bertelepati, apakah kita masih sama dengan nenek moyang yang merusak Bumi? Di Indonesia, di tengah krisis lingkungan dan modernisasi, bagaimana kita memaknai "identitas" sebagai spesies yang rentan?

2.Sifat Destruktif yang Tak Berubah

Melalui dialog antara "Mothers" dan manusia, Kawakami menyindir kegagalan kita. "Kalian mencipta, tapi lebih banyak menghancurkan," ujar seorang Mother pada karakter Kyla. Ini mengingatkan pada determinisme filosofis—apakah manusia terjebak dalam siklus kehancuran yang tak terelakkan? Novel ini seperti berkata: Lihatlah, bahkan di ambang kepunahan, kita masih saling membenci dan mencintai dengan cara yang sama.

3. Evolusi atau Kemunduran? Dilema Etis

Beberapa manusia dalam cerita berevolusi dengan kemampuan unik: fotosintesis, regenerasi organ, atau telepati. Tapi Kawakami tak menjadikannya sebagai "kemajuan". Justru, mereka dikucilkan. Mirip dengan diskriminasi pada kelompok minoritas atau penyandang disabilitas, Kawakami mempertanyakan: Apakah evolusi fisik selalu sejalan dengan kemajuan moral? Di Indonesia, kita sering melihat bagaimana perubahan teknologi dan sosial memunculkan pertanyaan serupa tentang inklusi dan keadilan.

4. Cinta di Tengah Kehancuran

Di tengah dunia yang amburadul, Kawakami tetap memberi ruang pada cinta dan kebencian sebagai inti kemanusiaan. Bab penutup "Are You There, God?" menggambarkan hubungan rumit antara manusia dan "Mothers", di mana emosi tetap menggerakkan tindakan—bahkan ketika kepunahan sudah di depan mata. "Kita mungkin akan punah, tapi bukan berarti kita berhenti merindukan," kata salah satu karakter. Ini mengingatkan kita bahwa cinta dan harapan adalah bagian tak terpisahkan dari kemanusiaan kita.

5. Refleksi

Kawakami membagi novel menjadi 14 bab yang terpisah namun terhubung, melompati ribuan tahun. Teknik ini bukan sekadar pamer gaya, tapi alat filosofis: Setiap bab seperti fragmen sejarah yang memaksa pembaca merenung. Apa yang tetap abadi dari manusia? Apa yang harus diubah? Di Indonesia, kita bisa melihat paralel dengan cara dongeng Nusantara menggunakan alegori untuk mengkritik sosial. Kawakami memakai fiksi spekulatif sebagai cermin untuk mempertanyakan keberlanjutan kita.

6. Apa Artinya "Manusia" bagi Kita?

Under the Eye of the Big Bird bukan sekadar novel tentang masa depan—ia adalah peringatan. Di Indonesia, di mana isu lingkungan, disrupsi teknologi, dan krisis identitas mengemuka, pertanyaan Kawakami relevan: Bagaimana kita mendefinisikan "manusia" di era AI dan rekayasa genetika? Apakah kita mampu belajar dari kesalahan, atau akan mengulangi kehancuran seperti para leluhur dalam cerita? Kawakami tak memberi jawaban, tapi membuka ruang diskusi. Seperti kata salah satu karakternya: "Yang tersisa hanyalah pertanyaan. Dan mungkin, itu sudah cukup."