20 Sep 2026

Eleventwelfth sudah pernah ke Bali setahun lalu. Malam itu mereka kembali, kali ini sebagai pembuka rangkaian tur album showcase album 11 mereka di Berbagi Ruang.
Dua jam itu lama, dan album ini memakainya untuk sesuatu: satu penerbangan penuh dari lepas landas sampai pendaratan, plus waktu yang cukup bagi saya untuk mempertanyakan beberapa pilihan hidup di tengah jalan.
eleventwelfth - your head as my favourite bookstore
Album 11 adalah bagian pertama dari proyek dua album naratif eleventwelfth. Album berikutnya, 12, melanjutkan ceritanya: kalau 11 mengambil tema langit, 12 memindahkan ceritanya ke laut. Penamaannya memang mengikuti nama band, tapi konsepnya tidak berhenti di situ.
Di siniar Urusan, para personel menjelaskan bahwa 11 memakai metafora penerbangan. Tokohnya sedang dalam perjalanan menuju sesuatu yang ingin ia capai. Pesawat lepas landas, menghadapi turbulensi, lalu perlahan berhadapan dengan kemungkinan jatuh. Di antara titik berangkat dan tujuan itu selalu ada fase ketika pesawat berguncang dan sebagian penumpang mulai berpikir bahwa naik bus mungkin pilihan yang lebih baik.
Albumnya bergerak sebagai percakapan antara seseorang dan alam bawah sadarnya: ada mimpi, pengorbanan, kecemasan, fase melepaskan, dan satu pertanyaan yang muncul berulang di sepanjang jalan: yakin nih?
Secara musikal, 11 tidak melanjutkan genre yang sudah nyaman bagi mereka. Album ini lebih gelap, berat, dan sintetis, campuran post-hardcore, math rock, IDM, dan glitch. Vokal Rona yang melodis berhadapan dengan teriakan Tir yang lebih emosional, seolah satu orang berusaha terlihat tenang sementara sisi lainnya sudah mengirim surat pengunduran diri kepada kewarasan.
Menyaksikan album 11 dibawakan utuh membuat album ini berjalan seperti satu perjalanan, bukan daftar lagu yang dimainkan berurutan. Mereka memang membangun album dari konsep: tracklist dan mood ditentukan lebih dulu, tiap lagu mengisi posisi tertentu dalam cerita, dan prosesnya bahkan dimulai dari visual serta suasana.
Karena itu satu jam penuh berjalan seperti satu penerbangan panjang. Ada fase naik, ada turbulensi, ada bagian ketika kita hanya bisa duduk diam sambil berharap kru kabin tahu apa yang sedang mereka lakukan.
Bagi penonton yang cuma kenal lagu-lagu lama, bagian ini seperti melihat band yang sama dengan isi kepala yang berbeda. Fondasi mereka masih terdengar, tapi bentuknya lebih eksperimental. Mereka tidak mengulang formula SIMILAR, dan tidak mau dikunci dalam satu genre atau satu ekspektasi penonton.
eleventwelfth - another night awake with you on my mind
Konser malam itu bukan cuma musik. Di awal pertunjukan, vokalis eleventwelfth berseloroh bahwa negara ini sudah terlalu penuh masalah, dan menghadapinya dengan mindfulness bukan jawaban yang tepat.
Di sela-sela lagu dia menyebut kebakaran hutan di Kalimantan, anak-anak yang keracunan makanan dari program MBG, dan pemerintah yang dinilai tidak becus menanganinya. Pernyataan yang jarang terdengar dari atas panggung penampil, yang biasanya cuma menjual kaos dan promo untuk konser berikutnya.
Celetukan itu menyorot kebiasaan menjawab perkara besar dengan saran yang cuma bisa dikerjakan sendiri-sendiri. Mindfulness, yang sempat ramai dibicarakan seorang publik figur, di tangan mereka jadi kritik sosial.
Saya cukup terkejut celetukan politik muncul di sela-sela lagu. Biasanya di konser orang berteriak "mana suaranya?" atau meneriakkan "we want more" sampai suara habis. Malam itu ada agenda tambahan: mengingatkan bahwa hidup di negara ini kadang seperti turbulensi, bedanya pilotnya tidak pernah mengumumkan apa-apa dan penumpangnya tidak bisa komplain ke customer service.
Setelah satu jam membawa penonton masuk ke dunia 11, eleventwelfth mengubah arah. Satu jam berikutnya diisi lagu-lagu hits mereka, dan di bagian ini penonton bisa berhenti menebak-nebak: mereka tahu lagunya, tahu kapan harus ikut bernyanyi.
Peralihan itu bekerja karena keduanya saling menguatkan. 11 memperlihatkan mereka mengeksplorasi wilayah baru, lagu-lagu lama mengingatkan kenapa mereka bisa sampai di titik ini. Identitas lama mereka tetap ada, dan justru itu yang membuat bagian kedua terasa seperti pulang, bukan pindah haluan.
Konser ditutup dengan "your head as my favourite bookstore". Pilihan yang tepat. Setelah dua jam penuh suara keras, narasi penerbangan, dan kritik sosial, lagu itu hadir seperti adegan penutup film yang tidak menjelaskan semuanya, tapi meninggalkan perasaan baru saja melewati sesuatu.
Di luar, semua masih seperti dua jam sebelumnya. Saya pulang dengan telinga berdenging dan satu album yang belum selesai saya pahami. Untuk malam Jumat, itu sudah cukup.