11 May 2026
Saya tidak pernah merencanakan untuk mengenal Human Design. Semua bermula dari seorang kawan yang merekomendasikan sebuah buku, lalu obrolan kami melenceng ke tempat yang tidak saya sangka-sangka. Di sanalah saya pertama kali mendengar nama Sleeping Phoenix.
Dari obrolan itu, saya tahu bahwa saya seorang Manifesting Generator dengan otoritas emosional, profil 1/3 Investigator/Martyr. Tapi yang paling menempel justru Incarnation Cross saya: The Sleeping Phoenix (55/59 | 34/20). Cetak biru yang ternyata sama dengan milik kawan saya. Pertemuan kami, kami percaya, bukan tanpa sebab.
Sepekan sebelumnya, kami pergi ke Ruang Arta Derau. Sebuah ruang kreatif di Ubud yang tidak terlalu ramai. Di sana ada instalasi karya Yudho yang membuat saya berdiri lebih lama dari biasanya.
Karyanya bicara tentang glitch. Kecacatan visual yang justru menghasilkan sesuatu yang indah. Ia menggunakan alat eksternal untuk memvisualisasikannya, sesuatu yang langsung memantik imajinasi saya. Glitch terasa seperti metafora yang jujur: kadang kita harus rusak dulu sebelum bisa melihat lebih dalam.
Percakapan dengan pemandu galeri mengalir begitu saja. Dari lokakarya keramik, tanah liat yang ditekan, dibakar, lalu menjadi sesuatu yang bermakna, obrolan kami mengarah ke kalender Bali yang tergantung di ruang pameran. Sang pemandu bercerita tentang ala ayuning dewasa, perhitungan hari baik dan buruk yang mengatur ritme kehidupan masyarakat lokal. Kawan saya sempat tertawa ketika mendengar betapa detailnya sistem ini. Bayangkan saja, dari urusan mencukur rambut hingga memasang atap rumah, semuanya sudah ada hitungannya.
Tapi di balik tawa itu, saya justru tersadar. Jika semesta sampai repot mengatur waktu untuk hal-hal sekecil itu, maka pertemuan saya dengan kawan ini dan semua perjalanan yang mengikutinya, jelas bukan kebetulan belaka.
Malam harinya, kami lanjut ke The Yoga Barn. Ada pementasan Fanna-Fi-Allah Sufi Qawwali malam itu. Saya datang tanpa banyak bekal soal apa yang akan saya lihat, jadi saya hanya mengikuti saja. Sampai para darwis mulai berputar, dan pertunjukan itu baru benar-benar terasa dimulai..
Tarian Sema ini warisan Jalaluddin Rumi. Tidak ada yang kebetulan dari gerakannya. Topi tinggi yang mereka kenakan, sikke, adalah simbol batu nisan dari ego. Jubah putihnya adalah kain kafannya. Mereka berputar berlawanan arah jarum jam, meniru orbit planet mengelilingi matahari. Tangan kanan menengadah ke atas untuk menerima berkah sang Ilahi, sementara tangan kiri menghadap ke bumi untuk menyalurkan berkah itu kepada sesama tanpa menahannya sedikit pun..
Saya hanya diam menonton. Tidak mencari makna tambahan. Cukup menyaksikan.
Segala persinggungan acak dari minggu sebelumnya itu, tentang seni yang terdistorsi, putaran sufi, dan obrolan Human Design, seolah baru menemukan muaranya di dalam bus Trans Metro Dewata. Kali ini, saya memang sengaja mengambil pilihan transportasi publik ini menuju Ubud. Bus bertolak dari Terminal Ubung, melewati rute Koridor 4B.
Saya memilih bus, bukan ojek atau taksi daring, karena kadang kita memang perlu bergerak lebih pelan supaya sempat mendengar apa yang sebenarnya sedang terjadi di kepala sendiri.
Di pelat dashboard terpasang nama I Gusti Agung Made Suamba. Pak Suamba memutar Betharia Sonatha sepanjang rute. Lagu Hati Yang Luka mengalun, dan saya mendadak ingat ibu. Bukan ingat yang puitis-puitis, melainkan ingat dengan cara yang paling sederhana: lagu itu memang lagu yang biasa beliau nyanyikan di rumah, dan tiba-tiba Ubud terasa seperti tempat yang lebih dekat ke kampung halaman daripada yang saya kira.
Di luar jendela, saya mengeja nama-nama pemberhentian yang masih terasa asing: Simpang Nangka, Simpang Trengguli, Sekar Jepun, Tohpati, dan Batu Bulan. Sudah tiga tahun saya tinggal di Bali, tetapi rupanya saya masih belum akrab dengan sebagian besar namanya.
Sisa perjalanan saya habiskan dengan membaca Akar dari seri Supernova. Itu juga rekomendasi kawan yang sama. Ia bilang Bodhi sangat mirip dengan saya, dan setelah beberapa halaman, saya paham kenapa ia berani bilang begitu. Bodhi adalah tipe orang yang tidak betah di tempat aman terlalu lama, lalu memilih berjalan saja, entah ke mana, sambil berharap makna mau menyusul dari belakang. Saya membaca itu dan tersenyum kecil. Kawan saya rupanya tidak sedang asal bicara.
Ubud - April 2026